top of page

Tujuan SSOP Adalah untuk Jaga Kebersihan Pada Industri

Diperbarui: 30 Jul 2023

Kebersihan merupakan kunci dari lingkungan yang sehat, Anda juga mungkin sering mendengar jargon “bersih pangkal sehat. Ya, kebersihan memang menjadi faktor kunci dalam menjaga kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit serta mencegah terjadinya kontaminasi yang dapat disebabkan oleh bahan kimia. Salah satu hal yang paling mudah untuk dilakukan dalam menjaga kebersihan adalah dengan melakukan sanitasi secara berkala, sanitasi di sini termasuk di dalamnya menjaga fasilitas pencuci tangan sanitasi dan toilet.

Menjaga lingkungan tetap bersih tidak hanya dilakukan pada lingkungan rumah saja, melainkan juga turut dilakukan pada lingkungan kerja, karena kedua tempat tersebut merupakan tempat yang akan sering kita tempati sehari-hari. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas pentingnya menjaga kualitas sanitasi di dalam lingkungan kerja khususnya pada industri pangan atau industri pengolahan. Simak penjelasannya mengenai SSOP atau Sanitation Standard Operating Procedures di bawah ini.

Tujuan SSOP Adalah untuk Jaga Kebersihan Pada Industri

Key Takeaways:

  • SSOP adalah untuk menjaga kesehatan karyawan dan juga kebersihan karyawan, hal ini sejalan dengan tujuan SSOP lainnya untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari bahan berbahaya.

  • Dalam industri pangan atau industri pengolahan pangan, kebersihan menjadi kunci penting dari terciptanya produk pangan yang bebas dari sumber kontaminasi.

  • Terdapat delapan kunci prinsip-prinsip sanitasi yang perlu diterapkan di dalam SSOP menurut Winarno dan Sunarno (2004).


SSOP Adalah ?

Di dalam industri pangan atau industri pengolahan pangan, kebersihan menjadi kunci penting dari terciptanya produk pangan yang bebas dari sumber kontaminasi, hal ini disebabkan produk pangan atau makanan sangat sensitif terhadap kontaminasi yang dapat dihasilkan dari proses produksi pangan. Maka dari itu dibuatlah sebuah standar untuk menjamin seluruh proses produksi pangan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan, prosedur tersebut biasa dikenal dengan istilah SSOP atau standard sanitation operating procedures.

Penerapan SSOP pada industri pangan adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pemilik industri pangan, adapun penerapan SSOP tidak hanya terdapat pada proses produksi saja, melainkan juga mencakup proses budidaya serta distribusi. Dengan adanya SSOP ini diharapkan seluruh proses yang terjadi dalam menghasilkan produk pangan dapat terjamin kebersihannya dengan menjamin proses sanitasi dan tingkat higienitasnya.

Adapun tujuan diadakannya SSOP adalah untuk menjaga kesehatan karyawan dan juga kebersihan karyawan, hal ini sejalan dengan tujuan SSOP lainnya untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari bahan berbahaya, belum lagi persyaratan yang dikeluarkan oleh GMP (Good Manufacturing Practices) yaitu mengatur zat kimia atau bahan kimia yang aman, efektif, dan telah memenuhi minimum standar.


8 Kunci Penerapan SSOP Pada Industri Pangan

Menurut Winarno dan Surono (2004), terdapat delapan kunci prinsip-prinsip sanitasi yang perlu diterapkan di dalam SSOP. Berikut merupakan delapan kunci aspek persyaratan utama sanitasi dan pelaksanaannya.

1. Keamanan Air

Air merupakan komponen terpenting ketika berbicara mengenai sanitasi, karena air merupakan material utama dalam mencegah terjadinya kontaminasi ataupun sebagai pembersih. Sejalan pada implementasi SSOP, air juga menjadi komposisi terpenting di dalam proses produksi pangan, keberadaan air berfungsi untuk mencuci produk, membuat es, mencuci peralatan atau mencuci sarana, mencuci tangan, serta sebagai sumber air minum bagi karyawan.

Selain itu, keberadaan air pada industri pangan atau makanan harus berasal dari sumber air yang bersih dan sebisa mungkin dibuat khusus dan terpisah dari penggunaan air untuk hal-hal lainnya, sebagai contoh terdapat pemisahan antara air bersih dan air tidak bersih yang dipisahkan oleh pipa yang berbeda.

2. Kondisi dan Kebersihan Permukaan yang Kontak Dengan Bahan Pangan

Dalam melakukan proses produksi makanan, kesehatan personil karyawan harus dipastikan bebas dari ancaman penyakit karena sangat berisiko terjadinya kontaminasi silang dengan makanan, selain itu yang perlu diperhatikan adalah kondisi kebersihan permukaan yang kontak dengan bahan pangan, jangan sampai terdapat kontaminasi bahan kimia yang dapat membahayakan makanan.

Ada baiknya bagi seluruh karyawan untuk dapat melakukan aktivitas cuci tangan pada fasilitas cuci tangan yang telah disediakan oleh perusahaan dalam rangka melakukan proteksi dari bahan kimia yang mungkin hinggap serta tak lupa untuk selalu menggunakan sarung tangan sebagai bagian dari standar prosedur pelaksanaan SSOP.

3. Pentingnya Pencegahan Kontaminasi Silang

Kontaminasi silang merupakan istilah yang umum ditemui pada proses pengolahan makanan atau pangan, kontaminasi silang sendiri merupakan perpindahan mikroorganisme berbahaya dari makanan ke makanan lain, peralatan memasak, sarana memasak, hingga ke orang yang memasak makanan itu sendiri yang dapat menyebabkan kontaminasi silang.

Penyebab umum kontaminasi silang biasanya disebabkan oleh bahan kimia, polusi, dan juga mikroorganisme, adapun jika kontaminasi silang ini masuk ke dalam tubuh maka dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, mulai dari yang ringan hingga serius sekalipun.

Berbicara mengenai pencegahan kontaminasi silang dalam proses produksi makanan, penting bagi Anda untuk memisahkan bahan dengan produk siap konsumsi dan juga desain dari sarana pengolahan makanan itu sendiri.

4. Menjaga Fasilitas Pencuci Tangan Sanitasi dan Toilet

Demi menjaga kebersihan personil, menerapkan ssop sudah menjadi keputusan yang sangat tepat demi menjaga kualitas produk yang akan dihasilkan, salah satu cara untuk melakukan monitoring kebersihan personil adalah dengan menjaga fasilitas pencuci tangan sanitasi dan toilet. Hal ini dikarenakan kedua fasilitas tersebut memegang peranan yang sangat penting di dalam hal penerapan prosedur ssop.

Dengan menjaga fasilitas pencuci tangan sanitasi dan toilet, maka Anda telah berkontribusi dalam menjaga keamanan pangan dari adanya bahan kontaminan yang berpotensi masuk ke dalam produk tersebut. Maka dari itu, jagalah fasilitas sanitasi yang telah disediakan oleh perusahaan Anda demi menjamin kualitas produk yang akan Anda hasilkan.

5. Proteksi Dari Bahan Kontaminan

Pengertian dari kontaminan sendiri menurut Codex Alimentarius adalah setiap substansi yang tidak sengaja ditambahkan ke dalam bahan pangan atau pakan yang akan muncul sebagai hasil proses produksi, pengolahan, penyiapan, pengemasan, transportasi, dan penyimpanan sebelum dilakukannya distribusi ataupun hasil dari kontaminan lingkungan.

Salah satu contoh bahan kontaminan yang dapat muncul pada proses pengolahan makanan adalah senyawa yang menimbulkan potensi penurunan kesehatan tubuh, beberapa di antaranya seperti MCPD, akrilamida, 3-MCPD, dan gliseril ester.

Dengan adanya upaya proteksi dari bahan kontaminan diharapkan dapat menjamin bahwa produk pangan, proses pengemasan, dan permukaan yang kontak langsung dengan pangan dapat terlindung dari potensi kontaminasi mikroba, bahan kimia, dan fisik.

6. Pelabelan Penyimpanan dan Penggunaan Bahan Toksin yang Benar

Bahan toksin adalah substansi beracun yang diproduksi oleh makhluk hidup seperti bakteri atau jamur yang berpengaruh pada bahan pangan. Adanya bahan toksin sendiri pada bahan pangan dapat berakibat tidak fatal atau fatal, bergantung dari lamanya bahan pangan tersebut terpapar oleh bahan toksin, sehingga apabila durasi terpaparnya singkat maka tidak akan berdampak buruk pada tubuh dan begitupun sebaliknya.

Munculnya bahan toksin terbagi menjadi dua, yaitu karena produksi dari bahan pangan itu sendiri dan karena pengaruh jamur. Salah satu contoh bahan toksin yang dihasilkan sendiri oleh bahan pangan yaitu kandungan glycoalkaloid yang terkandung pada kentang (terakumulasi di bagian warna hijau pada kentang yang memiliki tunas).

Kedua adalah yang disebabkan oleh jamur, jenis bahan toksin inilah yang perlu Anda waspadai, toksin tersebut bernama mycotoxin yang dapat tumbuh diberbagai jenis bahan pangan. Senyawa toksin ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti spasm, kesakitan, gangrene, bahkan gejala-gejala yang cukup fatal.

7. Pengawasan Kondisi Kesehatan Personil yang Dapat Mengakibatkan Kontaminasi

Berbicara mengenai industri pengolahan pangan memang tidak jauh-jauh dari hal kebersihan atau sanitasi di tempat produksi, sanitasi sendiri terbagi menjadi dua yaitu sanitasi sarana peralatan atau sarana pengolahan pangan dan sanitasi personil yang bekerja di dalam fasilitas pengolahan tersebut.

Setiap karyawan fasilitas tersebut sudah pasti memiliki kontak dengan bahan pangan lebih sering dibandingkan dengan yang lainnya, karena merekalah yang membantu proses produksi pangan sebelum nantinya dapat didistribusikan kepada konsumen. Maka dari itu, kesehatan karyawan serta kebersihan personil harus sangat-sangat diperhatikan guna menjamin mutu dan standar kebersihan pada produk pangan yang akan dihasilkan.

Setiap stakeholder di dalam fasilitas pengolahan tersebut berkewajiban untuk melakukan monitoring terhadap hal-hal yang dapat mengakibatkan kontaminasi.

8. Menghilangkan Hama Pengganggu dari Unit Pengolahan

Bakteri atau hama hampir ada di setiap tempat yang Anda kunjungi, tidak terkecuali pada unit pengolahan pangan. Walaupun unit pengolahan pangan harus dipastikan steril dari gangguan hama, akan tetapi tidak dapat dipungkiri pasti hama tersebut akan kembali datang, maka dari itu diperlukan pengendalian hama yang baik pada fasilitas unit pengolahan.

Terdapat beberapa hama yang biasanya ditemukan pada unit pengolahan pangan yaitu lalat dan kecoa yang dapat membawa bakteri Salmonella, Streptococcus, C.Botulinum, Staphylococcus, C.Perfringens, Shigella. Selain itu hama lain seperti binatang pengerat yang membawa bakteri Salmonella dan parasit, serta burung yang membawa variasi bakteri patogen Salmonella dan Listeria.

Adapun tujuan dari poin ke delapan ini adalah untuk menjamin tidak adanya hama di dalam fasilitas unit pengolahan pangan, agar seluruh hasil produksi dapat terjamin kebersihannya.


Tujuan Implementasi SSOP

Berikut ini merupakan beberapa tujuan dari dilakukannya implementasi SSOP pada unit pengolahan pangan:

  • Program higienitas dan sanitasi akan meningkatkan kualitas yang akan berdampak kepada peningkatan keamanan produk, hal ini sejalan dengan menurunnya kontaminan mikroba.

  • Menjelaskan prosedur sanitasi untuk digunakan di tempat kerja.

  • Memberikan jadwal prosedur sanitasi.

  • Memberikan landasan untuk dilakukan monitoring di tempat kerja.

  • Mendorong perencanaan untuk menjamin tindakan koreksi.

  • Mengidentifikasi tren dan mencegah terjadinya kembali.

  • Membawa perbaikan berkelanjutan di tempat kerja.

  • Peraturan GMP mengharuskan penggunaan bahan kimia tertentu yang aman dan efektif.

  • Tahapan dalam higienitas dan sanitasi.

  • Persyaratan minimum penggunaan chlorine pada air pendingin (khusus industri pengolahan pangan).

  • Pengaruh faktor pH, suhu, konsentrasi disinfektan pada hasil akhir sanitasi.

  • Masalah potensial yang timbul jika sanitasi dan higienitas tidak dijalankan.


Manfaat SSOP

Selain terdapat tujuan dari diimplementasikannya SSOP, berikut ini terdapat beberapa manfaat SSOP yang perlu Anda ketahui.

  • Memberikan jadwal prosedur sanitasi.

  • Memberikan landasan program monitoring yang berkesinambungan.

  • Mendorong perencanaan yang menjamin dilakukannya koreksi bila diperlukan.

  • Mengidentifikasi kecenderungan dan mencegah kembali terjadinya masalah.

  • Menjamin setiap personil mengerti sanitasi.

  • Memberi sarana pelatihan yang konsisten bagi personil.

  • Meningkatkan praktik sanitasi dan kondisi di unit usaha.


Bagaimana Membuat SSOP yang Baik?

Bagaimana Membuat SSOP yang Baik?

Untuk dapat mewujudkan lingkungan kerja yang bersih dan higienis khususnya pada industri pangan, penting bagi Anda untuk mengetahui bagaimana cara membuat SSOP yang baik dan benar. Di bawah ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin membuat SSOP.

1. Kebijakan Perusahaan

Setiap SSOP yang telah dibuat oleh perusahaan pastinya bersifat wajib untuk diikuti oleh semua karyawan, maka dari itu penting bagi para pemilik bisnis pengolahan makanan untuk selalu mencantumkan aturan wajib mengikuti SSOP pada kebijakan perusahaan.

SSOP memiliki sifat wajib dan memaksa, maka siapapun tidak boleh melakukan tawar menawar apalagi acuh terhadap aturan yang tercantum pada SSOP.

2. Tanggung Jawab Setiap Karyawan

Dengan adanya SSOP, bukan berarti seluruh aspek kebersihan dapat terjamin 100%, akan tetapi penting untuk diingat bahwa tanggung jawab masing-masing karyawan juga tidak kalah penting, karena setiap prosedur tidak akan berhasil tanpa adanya komitmen dan tanggung jawab dari para stakeholders terkait.

Tanggung jawab utama dari para karyawan unit pengolahan pangan adalah untuk selalu melaksanakan setiap prosedur sanitasi dan pembersihan pada waktu dan frekuensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain itu, masing-masing karyawan juga harus bertanggung jawab atas penggunaan mesin-mesin produksi serta selalu menjaga kebersihan ketika melakukan kontak dengan permukaan.

3. Tanggung Jawab Manajer

Dalam mewujudkan SSOP, dibutuhkan peran seorang manajer yang dapat mengatur dan mengawasi seluruh kinerja karyawan agar selalu menjalankan prosedur-prosedur sanitasi dan kebersihan yang tercantum di dalam SSOP. Adapun beberapa tanggung jawab seorang manajer, antara lain:

  • Melakukan inspeksi berkala untuk memastikan bahwa seluruh peralatan dalam kondisi yang bersih dan higienis.

  • Melakukan monitoring terhadap kinerja para karyawan dalam menerapkan sanitasi yang baik.

  • Memastikan bahwa seluruh prosedur SSOP dijalankan dengan baik.

4. SSOP Mengandung Tata Cara Pembersihan yang Detail

Sebuah SSOP harus memuat tahapan-tahapan pembersihan secara detail untuk mencegah risiko kesalahpahaman bagi para personil atau karyawan unit pengolahan makanan. Berikut urutan tata cara pembersihan yang disarankan:

  • Membersihkan seluruh fasilitas unit pengolahan sebelum beroperasi.

  • Mencuci dengan menggunakan air bersih.

  • Membilas.

  • Sanitasi.

  • Mengeringkan apabila diperlukan.

5. Frekuensi Pembersihan

Bakteri, hama, atau noda pasti akan muncul setiap saat terlebih pada fasilitas unit pengolahan yang diisi oleh banyak orang, prosedur SSOP perlu dijalankan dengan frekuensi tertentu, karena proses sanitasi akan kurang efektif apabila hanya dilakukan sesekali, melainkan harus terus menerus.

---

Temukan berbagai artikel lainnya mengenai industri dan pergudangan di blog Ashe Forklift.



167 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


Commenting has been turned off.
Post: Blog2_Post
bottom of page